HIIDUP ADALAH PILIHAN
“G eman jenk?”
kata temen kuliahQ
“Ah deket bu
orang masih satu propinsi, bisa pulang satu minggu sekali jadi g usah nyusul
eman bud ah enak ngajar disini, ntar dirumah truz momong dedek malah bosen”
kata temen kerjaku
“Kamu yakin ikut
menetap bersama suami di luarkota? G gammpang lho hidup sendiri jauh dari
orangutan dan keluarga belum lagi momong dedek sendirian” Kata kakakQ. “ kamu
udah siap nerima ‘uang’ dari suami? Kamu megang n nyari uang sendiri dengan
kamu minta suami itu rasanya beda yo deik… inget qita punya orangutan yang
mengharapkan qt buat bantu dihari tuanya, kalo km g punya penghasilan sendiri
apa km bisa untuk itu? “ lanjut kakakQ
“Dari lahir tak
rawat tak sayang, sekarang udah kelihatan wajahnya dan kelihatan lucunya mau
diajak pergi?” kaya mbahtik tentang adek
“biasanya tiap
hari dandan pergi ngajar dan berinteraksi dengan banyak orang, terus mau
dirumah momong dedek sendirian, emank kamu kuat? Emank kamu betah” Kata ibu
tentang anaknya ini.
Masih banyak
lagi hal yang disampaikan orang sekitar yang bernada negative tentang
rencananku pindah menyusul suamiku yang pindah kerja walawpun masih satu
propinsi perjalanan paling 3 jam dengan sepeda motor tetep aza pindah kan?.
Meninggalkan rutinitas, temen2, murid2, kerjaan dan tdia, etek bengek yang
lain. Dan harus menjadi “hanya” ibu rumahtangga di kota lain dengan suami dan
dedek.
Kalau ditanya
apa tidak sayang meninggalkan pekerjaan ynag selama ini sudah memberikan banyak
hal? Meninggalkan keluarga besar salahsatu sekolah yang sudah seperti keluarha
sendiri? Meninggalkan rutinitas mengajar, bertemu dan bercanda dengan murid dan
temen guru, (termasuk memarahi murid hehehe)? Jawabnya” IYA” sayang banget
malah…
Apa aku bisa
momong dedek sendiri? Selama ini lebih banyak ibu yang momong dedek karena aku
hampir tiap hari berangkat dan pulang sudah sore hari. “apa aku gak bosen hanya
dirumah ngurus rumah dan dedek? Karena biasa gak bisa diem, ngobrol sama banyak
orang, aktifitas yang beragam dan lainnya? Jawabnya “jujur AKU GAK TAHU”
Yang aku tahu
aku ingin mendampingi suamuku disana. Menjadi keluarga yang utuh kembali. Agar
aku bisa memastikan suamiku baikbaik dan tetep chayank ma aku. Aku ingin
merawat dan mendidik dedek sesuai dengan idealism aku dan suamiku. Menentukan
apa yang dia makan, apa yang dia minum, apa yang boleh dan tidak boleh buat
dia, kapan dia harus bangun, kapan dia mo mandi dan semuany….
Aku ingin
mendampingi dan menjadi saksi serta menjadi jalan untuk setiap perkembangan dan
tumbuh kembang dedek tanpa terkecuali tanpa harus menunggu aku pulang ngajar.
Aku tidak ingin melihat dedek masih menangis digendongan yanda (panggilan
Ayah). Aku tidak ingin dedek tidak kenal ma yandane lebih kenal sama tetangga
yang bisa tiap hari ketemu dan main ma dedek. Aku tidak ingin dedek tumbuh
menjadi seorang anak yang tidak mengenal yandane. Aku ingin melihat dedek bisa
deket dan lengket ma yandane. Aku g perlu mengirim suara dan gambar via hape
tentang perkembangan dedek ma yanda karena yanda bisa segera tahu sore harinya
saat yanda pulang kerja. Simple bukan???
Selain itu yang
pasti aku ingin ada disamping suamiku disaat dia butuh aku. Aku ingin dia
disisi aku saat aku membutuhkan kehadiran dia. Aku ingin dia merasa damai dan
tentram karena aku dan dedek ada disamping dia. Aku ingin menyiapkan keperluan
dia sebelum dia berangkat kerja, menunggu dia pulang kerja dan menikmati
sarapan dan makan malam dengan dia setiao hari. AKu ingin di pelukan dia saat
aku menangis, dia memegangku saar aku jatuh, dan butuh bantuan dan dukungan dia.
Gak neko neko kan?
Mungkin buat
oranglain ketemu satuminggu sekali itu masih bisa dan nyaman
Mungkin buat
oranglain tidak bisa melihat senyuman dedek setiap hari biasa
Buat orang lain
bisa menidurkan dedek sampai tertidur pula itu hal biasa
Tapi itu berlaku
dengan suami dan dirirku
Sari 2005 kita
kenal dan akhirnya memutuskan untuk memutuskan untuk saling mengenal,
memotivasi dan taaru sampai 2 tahun lalu hanya KKN yang bisa memisahkan qita
itupun hanya tiga minggu gak lebih dan beraattt bangetttt
Kemarin pas
suami harus Diklat 45 hari tanpa ketemu za rasanya seperti satu abad tapi
karena terpaksa aku ma dedek g mungkin ikut mo gimana lagi…
Sekarang
keadaan sudah memungkinkan suamiku mengajak aku dan deden kembali menemani hari
dia ditempat tugas dia yang baru. Membentuk keluarga seutuhnya
Memulai hidup
baru benar2 baru karena hanya dia aku dan dedek
Tidak ada
orangtua tidak ada saudara dan tidak ada handai tolan
Ya Allah
Ridhoilah perjalanan hidup kami
Berilah
petunjuk bahwa ini adalah jalan yang peling baik buat kami untuk mendidik kami
menjadi pribadi dan keluarga yang lebih mandiri dan membentuk keluarga sakinah
mawadah warahmah.
Bukan kan
sebaik baik keluarga yang bisa berkumpul satu atap dengan satu naghkoda yaitu
suami dan istri dan anak yang selalu ada idsamping dia
Ya udah dulu ah
mata sudah tidak bisa diajak kompromi nih…
Minta
isteirahat
Semoga
keputusan ini tepat dan tidak ada penyesalan di kemudian hari
Mungkin publish
besok. Gak papa yang penting kepala dan lebih ringan dibanding beberbapa waktu
yang lalu
Terima kasih
(11/9/2014, 22.00)
pagi hari tadi ibu pesen "jangan ngajuin keluar dulu dipikir yang bener" . itu bukan hanya pesen buat aku untk berpikir ulang tapi mungkin wujud keengganan beliau untuk melepas kepergian kami. tapi okelah qt coba pikir ulang dengan kepala dingin dan fresh dipagi hari
Sekarang tinggal jauh dengan suami:
- dari aku sendiri pikiran sering gak tenang mikirin suami yang lagi jauh, dia lagi apa? dia udah pulang belum? dia nglembur gak? dia udah maem apa? maem sama siapa? dia deket sama siapa? dan banyak pertanyaan lain yang berkecamuk didada
- masih dari aku, pola hidup dan maem kembali seperti dulu belum menikah, kalo mo maem y maem kalo g pengen maem walaupun lapar y gak bakalan maem (kayak sekarang laper tapi g pengen maem malah asik ngetik ngetik) padahal sekarang aku kan harus berbagi makanan dengan dedek kan? kalo dulu aku gak maem hanya aku yang kelaparan tapi sekarang dedek juga ikut ngrasain nenen yang g seger karena aku lapaer. cuma bedanya aku harus nyambi ngrawat dedek
- suami gak tenang dan nyaman hidup sendiri dan harus jauh dari dedek dan tidak bisa tahu perkembangan dan tumbuh kembang dedek secara langsung (itu za yang aku tahu pasti, yg lain aku g tahu)
- dedek lebih sering ma mbah ketimbang ma bunda ne yang kerja tiap hari pulang jm3 n hanya ketemu n maem bentar, dia jadi terpaksa minum sufor gak nenen asi. gak ketemu ma yandane selain sabtu minggu (itupun juga g bisa terus2 an ma dia). sampai sampai kalau malam sabtu yandane pulang, dia bangun malam tahu yandane ada dirumah disamping dia, malem2 dia ngajakn maen yandane yg lg ngantux. mungkin dia kangen jadi malem2 pun ngajak maen. tp kalo siang hanya nglihatn antara percaya apa nggak itu yandane apa bukan. ataupun mungkin dia masih belum nyaman kalo ma yandane jadi mpe sekarang dia belum bisa tenang hanya dengan dgendong yandane. apalagi tidur dgendongan yanda. padahal dulu lebih sering yanda yang meninabobokan dedek ketimbang bundane (hiks hiks hiks)
- Mbahe g bisa kemana - mana cz harus momong dedek. 2 kali ga ikut ziarah rutin yang dulu pasti ikut karena bundane ga bisa ijin dari skul dan g ada org lain yg bisa momong dedek. sampai kemarin budhe meninggal dunia ibu cuma kesana bentar karena aku hanya bisa ijin setengah hari. padahal disana sedang berkumpul seluruh keluarga. dulu ibu za g pernah ngajak anaknya pas ngaji sekarang harus ngajak cucunya. belum lagi pekerjaan rumah yang harus beliau kerjakan jika aku tidak sempet membersihkan cz lagi lagi buru2 brangkat sekolah.
- Aku masih bisa ngajar bisa bersosialisasi dengan banyak orang
- Aku gak terlalu lama pegang dedek jadi ga terlalu capek dan masih bisa jalan (hehehe)
- Ga terlalu dipusingkan dengan pekerjaan rumah dan bisa lebig relaks
- Ibu bisa deket dan ada ksebikan dengan momong dedek
- dedek bisa maen juga dengan mbahe
Aku keluar kerja dan ikut suami keluar kota, yang terjadi adalah ....
tunggu postingan selanjutnya ya...
snowy dah lowbat dan aku harus ngajar lagi...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar