sekarang dah didepan snowy (laptop putih tersayang) malah bingung mo nulis apa
mungkin tepatnya bukan apa yang ditulis tapi bingung apa yang harus ditulis lebih dulu....
hasil walking blog n googling za ah...
tema pertama LDR (long distance relationship)
itu yang sekarang saya dan suami alami. jadi lah nyari temen dan tips soal LDR
dapet disini. tapi aku mo ngopy tipsnya aza deh jangan banyak-banyak
Oleh karena itu pula, sebagai pelaku LDR, aku selalu berusaha untuk menjalankan beberapa tips penting berikut ini;
1. Saling Percaya.
Poin ini sengaja aku terapkan pada urutan pertama. Karena ini adalah poin utama dalam merawat kasih sayang dalam hubungan antar pasangan. Tanpa kepercayaan, maka kita akan selalu dipenuhi oleh rasa curiga dan aneka pikiran negatif lainnya, yang sudah pasti akan memicu pertengkaran dan menjadikan hubungan menjadi tidak harmonis.
2. Komitmen
Ini juga tak kalah pentingnya. Karena poin ini juga adalah kunci keberhasilan langgengnya sebuah hubungan, apalagi hubungan jarak jauh. Kedua belah pihak harus komit untuk menjaga kepercayaan dan segala aturan yang telah disepakati. Komit untuk menjaga ikrar pernikahan, artinya kita sepakat untuk saling setia, untuk saling menghargai, menghormati dan menjaga nilai suci pernikahan.
3. Komunikasi yang Teratur dan Jujur
Atur komunikasi sedemikian rupa, tanpa harus mengganggu aktivitas masing-masing. Selalu berusaha untuk update informasi, sehingga si dia merasa terlibat dalam setiap kegiatan penting yang sedang berlangsung. Hal ini akan membuat dirinya merasa seolah berada di antara kita [orang-orang yang dicintainya]. Kami biasanya menggunakan Skype untuk komunikasi secara audio-visual. Selain suara yang bening, biasanya visual look-nya juga oke banget tuh. Jadi serasa si dia berada di depan mata gitu lho. :)
4. Atur Jadwal Kunjungan
Nah, ini juga sangat penting. Walau teknologi telah demikian canggih, di mana kita sudah dapat berkomunikasi secara audio visual dengan sang kekasih hati, namun kehadirannya secara nyata, tentulah sebuah kebutuhan. Untuk itu, skedulkan rencana kunjungan secara berkala, agar kebersamaan dapat terasa nyata, dan menyegarkan kembali hubungan yang telah terentang oleh jarak selama ini.
5. Persiapkan Kejutan-kejutan kecil/Surprise bagi pasangan.
Hal ini, diperlukan untuk menumbuhkan dan memupuk kembali bunga-bunga cinta. Misalnya, muncul mendadak [kunjungan di luar dugaan], itu tentu akan menjadi surprise yang menyenangkan bagi suami atau istri. Tentunya sebelum mengadakan kunjungan dadakan ini, terlebih dahulu harus memastikan apakah si istri atau suami berada di tempat atau tidak. Jadi, tetap harus dicek terlebih dahulu agar kejutan ini tidak berakhir sia-sia. Atau, mengirimkan bunga digital via email, disertai sapaan selamat pagi atau sapaan-sapaan manis lainnya.
1. Saling Percaya.
Poin ini sengaja aku terapkan pada urutan pertama. Karena ini adalah poin utama dalam merawat kasih sayang dalam hubungan antar pasangan. Tanpa kepercayaan, maka kita akan selalu dipenuhi oleh rasa curiga dan aneka pikiran negatif lainnya, yang sudah pasti akan memicu pertengkaran dan menjadikan hubungan menjadi tidak harmonis.
2. Komitmen
Ini juga tak kalah pentingnya. Karena poin ini juga adalah kunci keberhasilan langgengnya sebuah hubungan, apalagi hubungan jarak jauh. Kedua belah pihak harus komit untuk menjaga kepercayaan dan segala aturan yang telah disepakati. Komit untuk menjaga ikrar pernikahan, artinya kita sepakat untuk saling setia, untuk saling menghargai, menghormati dan menjaga nilai suci pernikahan.
3. Komunikasi yang Teratur dan Jujur
Atur komunikasi sedemikian rupa, tanpa harus mengganggu aktivitas masing-masing. Selalu berusaha untuk update informasi, sehingga si dia merasa terlibat dalam setiap kegiatan penting yang sedang berlangsung. Hal ini akan membuat dirinya merasa seolah berada di antara kita [orang-orang yang dicintainya]. Kami biasanya menggunakan Skype untuk komunikasi secara audio-visual. Selain suara yang bening, biasanya visual look-nya juga oke banget tuh. Jadi serasa si dia berada di depan mata gitu lho. :)
4. Atur Jadwal Kunjungan
Nah, ini juga sangat penting. Walau teknologi telah demikian canggih, di mana kita sudah dapat berkomunikasi secara audio visual dengan sang kekasih hati, namun kehadirannya secara nyata, tentulah sebuah kebutuhan. Untuk itu, skedulkan rencana kunjungan secara berkala, agar kebersamaan dapat terasa nyata, dan menyegarkan kembali hubungan yang telah terentang oleh jarak selama ini.
5. Persiapkan Kejutan-kejutan kecil/Surprise bagi pasangan.
Hal ini, diperlukan untuk menumbuhkan dan memupuk kembali bunga-bunga cinta. Misalnya, muncul mendadak [kunjungan di luar dugaan], itu tentu akan menjadi surprise yang menyenangkan bagi suami atau istri. Tentunya sebelum mengadakan kunjungan dadakan ini, terlebih dahulu harus memastikan apakah si istri atau suami berada di tempat atau tidak. Jadi, tetap harus dicek terlebih dahulu agar kejutan ini tidak berakhir sia-sia. Atau, mengirimkan bunga digital via email, disertai sapaan selamat pagi atau sapaan-sapaan manis lainnya.
dari situ emank masalah utama di point 3
poin 1 dan 2 aku ma suami berusaha untuk menjalaninya. jadwal kunjungan alhamdulillah satu minggu sekali bisa kalau ditanya kualitasnya mikir juga sih... (karena banyak yang ngangenin suami kan bukan hanya istri ma dedek)
poin terakhir sedikit susah soalnya dedek yang masih 6 bulan agak kerepotan kalo bepergian keluar kota sendirian.
poin ketiga itu masalah dari dulu sebelum LDR za dah masalah apalagi sekarang
ah bahas LDR bikin galau ntar malah jadi tontonan diskul malah nangis...
ganti za ah...
agar menambah ilmu n bisa lebih mendekati keluarga yang samara alias sakinah mawadah warahmah. share karakter suami za deh biar tambah sayank dan cinta ma suami (bukan berarti sekarang gak cinta n sayank lho y!). ini dia artikelnya
Kenali 15 Karakter Suami
Senin, 20 Desember 2010
* DOMINAN
Suami cenderung mengarahkan dan mengatur-atur orang lain, terutama istrinya. Segala keputusan berada di tangannya. "Tentu saja hal ini akan menyebabkan ketimpangan-ketimpangan dalam keluarga karena suami-istri seharusnya merupakan koeksistensi atau berada dalam level yang sama," jelas Drajat S. Soemitro, Kepala Bagian Psikologi Perkembangan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
Mungkin saja istri menurut, tapi pasti dengan keterpaksaan atau perasaan ingin memberontak. Perasaan-perasaan serba tidak enak yang dipendam dalam diri istri akan menyebabkan muncul ketegangan-ketegangan dalam dirinya. Akibatnya hubungan suami istri pun akan terganggu. Karakter ini sebetulnya merupakan cerminan dari kekurangan suami.
Dominasi dimunculkan karena keinginan untuk memegang superioritas atau untuk menunjukkan kekuasaan. Baginya, ujar Drajat, "kalau saya tidak keras dan pegang kuasa, jangan-jangan saya dianggap lemah. Wah saya nggak mau dong!" Karakter ini tidak menimbulkan friksi atau masalah hanya jika istri memiliki "kebutuhan" untuk dieksploitasi, dijajah dan dijadikan korban. Suami yang dominan malah akan klop bila beristri perempuan masokis.
Suami dominan biasanya punya model ayah yang juga dominan. Di matanya, dominasi ayah terhadap ibunya terlihat begitu hebat dan heroik, menunjukkan superioritasnya sebagai lelaki jantan. "Kalau dominasi ini diramu dengan rasa marah dan benci, maka yang muncul adalah sifat sadis dan destruktif.
Kendati begitu, model ayah yang dominan bisa pula memunculkan pria penyayang yang amat melindungi wanita. Boleh jadi pria tadi "belajar" dari ketidaknyamanan yang dirasakannya sebagai anak dari orang tua yang dominan, lalu memilih tidak meneladani model tersebut."
* MINDER ATAU TAKUT ISTRI
Sebetulnya suami seperti ini "lahir" dari ibu yang kelewat dominan. Ia dibuat tergantung sedemikian rupa oleh ibunya. Namun dalam dinamika perkembangannya, si "anak" justru tumbuh menjadi pria yang dikuasai ketidakberdayaan. "Tak mengherankan kalau ia kemudian tampil sebagai suami lembut, penurut, submisif atau tidak berani melawan," tukas Drajat.
Tapi, tentu saja semua terpulang pada sosok wanita yang menjadi istrinya. "Kalau istrinya tidak dominan, boleh jadi ia pun tidak tergolong suami yang takut istri." Rasa takut dan minder biasanya disebabkan faktor ekonomi maupun psikis, yang membuat ia memang tergantung pada istrinya. Pengalaman semasa kanak-kanak seolah terulang lagi. Tidak jarang tipe suami begini manis di rumah, namun "liar" di luar dengan berlaku keras atau menekan bawahannya. Perilakunya di luar merupakan kompensasi dari ketidakberdayaan dan ketakutannya.
* CURIGA
"Bersumber dari insekuritas atau rasa tidak aman yang memunculkan sikap kelewat khawatir, cemas dan takut ditertawakan. Sebetulnya karena kurang capable atau ketidakmampuan membina hubungan sosial alias ketimpangan interpersonal." Ia selalu merasa was-was akan terjadi sesuatu yang merugikan atau mencelakakan dirinya. Itu sebabnya ia selalu curiga dan menganggap orang lain, termasuk istrinya, sebagai ancaman. Untuk mengatasinya, tak ada cara lain kecuali meningkatkan kematangan dan kepercayaan dirinya. Dalam kehidupan seseorang, jelas Drajat, manusia antara lain butuh rasa aman dan kepastian bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai dengan aturan yang ada. Seorang anak yang sedari kecil tidak pernah merasakan kehangatan pelukan ibunya atau tidak pernah merasakan rasa aman digandeng ayahnya ketika menyeberang jalan, memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi pribadi pencuriga. "Rasa tidak aman ini akan 'terekam' dalam diri anak sejak bayi." Ia tidak memiliki kebanggaan pada sosok ayah atau ibu yang seharusnya melindunginya sehingga ia akan menilai bahwa hidup ini tidak cukup aman untuknya. Begitu juga aturan-aturan yang tidak jelas dan tidak pasti, semakin mengundang kecurigaan. Ia tidak tahu mana yang boleh dan mana yang tidak. Karena tidak memperoleh rasa aman tadi, kepribadiannya tidak berkembang, hingga serba takut dan bingung. Yang ada "Jangan-jangan nanti aku jadi bahan tertawaan. Jangan-jangan aku tidak lulus, dan pola jangan-jangan lainnya." Di sini, lagi-lagi orang tua yang terlalu keras dan kelewat mengatur akan melahirkan anak yang berkarakter curiga. Ia begitu mudah bereaksi "menyerang" bila orang lain terasa mengancam hidupnya.
* POSESIF
Yang ini serupa tapi tak sama dengan suami dominan karena sebetulnya membuat orang lain tercengkeram kuat dalam genggamannya. Untuk menunjukkan kekuatan dan kekuasaan atau pengaruhnya, seorang suami posesif tidak mau sang istri lepas dari tangannya. Itulah mengapa suami tipe begini umumnya tidak "rela" istrinya berkarier di luar rumah karena khawatir kecantol pria lain. Ia pun tidak pernah siap bila istri lebih pintar atau memiliki karier yang lebih cemerlang dari dirinya. Pada dasarnya, kata Drajat, suami posesif adalah pribadi serba bingung yang juga lahir dari orang tua dominan.
* ANAK MAMI
Setiap kali ada masalah dalam keluarganya, suami tipe begini pasti akan lari mengadu atau mencari perlindungan pada ibunya. Jangan harap, deh, ia mau bersharing dengan pasangan hidupnya. Menurut Drajat, penyebabnya karena sejak awal, anak tidak diajarkan atau dibiasakan untuk menghadapi realitas. Segala sesuatu ditentukan atau diatur oleh orang yang pegang dominasi tadi. Dalam hal ini, ibunya. "Tentu saja istri kerap tidak bisa menerima kenyataan dirinya dinomorsekiankan oleh suaminya setelah kepentingan ibunya." Mau tidak mau ia harus selalu diposisikan untuk "bersaing" dengan ibu mertua. Sementara ibu mertua senantiasa berambisi menunjukkan pada menantu dan "seluruh dunia" bahwa cuma dialah yang paling bisa merawat dan mengerti anaknya.
Seharusnya sebagai kepala keluarga, suamilah yang kini menentukan jalan hidupnya sendiri. Tapi karena selalu berada dalam cengkeraman atau di bawah payung perlindungan ibu, ia mengalami kesulitan untuk menjalankan perannya sebagai suami yang penuh tanggung jawab.
* CEREWET
Sejak kecil, tipe suami ini terbiasa dituntut untuk melakukan segalanya serba sempurna. Celakanya, karena tuntutan tersebut terlalu tinggi, si lelaki cilik tadi justru dibayangi kekhawatiran tidak pernah bisa beres menyelesaikan tugasnya. Kalau melakukan kesalahan sedikit saja, yang didapatinya pasti omelan atau kemarahan.
"Dalam rangka menutupi kekurangannya itulah, ia pun lantas menunjukkan sikap cerewet pada orang lain. Ia menuntut kesempurnaan yang sama pada orang lain. Soalnya, ia sudah terlanjur terobsesi segala sesuatu memang harus serba sempurna. Super-egonya terlalu tinggi." Nilai-nilai kehidupan yang dimiliki suami tipe ini sebetulnya baik. Tapi karena tujuan dan dasarnya begitu rapuh, nilai-nilai tersebut justru jadi tidak sejalan dengan realita.
Untuk mengatasinya, terang Drajat, sejak kecil berilah kepercayaan dan kesempatan pada anak, termasuk kesempatan berbuat salah. Latih anak untuk menghadapi kenyataan sekaligus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya, tak peduli bagaimanapun hasilnya. Selain itu, tumbuh suburkan sikap toleran terhadap kekurangan atau kesalahan orang lain.
* PENDIAM
Tidak jadi masalah kalau istri bisa menangkap makna sikap diam suaminya lewat bahasa tubuh. Karena itu berarti komunikasi dua arah di antara mereka masih berlangsung. "Lo, si istri kan seharusnya sudah tahu sejak dulu kalau suaminya memang pendiam." Sikap pendiam ini baru akan jadi masalah kalau dijadikan alat oleh suami untuk menjauhkan diri dari istrinya. Jadi, lebih merupakan tameng atau keengganan suami untuk berkomunikasi.
Dalam kasus seperti ini, istri seharusnya berani introspeksi diri, mengapa suaminya jadi pendiam begitu. Kalau benar pernah terjadi kesalahpahaman akibat kegagalan berkomunikasi, apa yang kira-kira bisa diupayakan untuk menyelamatkan jalur komunikasi tadi. "Kalau diamnya lebih karena enggan berkomunikasi, sebetulnya ia memang sengaja menutup diri dari pasangannya." Secara tidak langsung bukankah ini berarti ia tak memaafkan maupun menghargai pasangannya lagi.
* NGERUMPI
Sebetulnya tipe pria begini terbilang sangat jarang karena kondisi budaya lebih memungkinkan wanitalah yang jadi biang gosip atau tukang ngerumpi karena wanita terbiasa bergantung pada orang lain. Dalam arti tidak berani ambil keputusan sendiri, hingga selalu "menoleh" dan meminta pendapat pada orang lain setiap kali ada masalah.
Menurut Drajat, dalam diri tiap orang ada kecenderungan untuk melengkapi apa pun yang belum lengkap. Begitu juga dalam melihat kehidupan, orang cenderung melengkapi-lengkapi apa yang dianggapnya kurang. "Itu sebabnya, semakin seseorang merasa dirinya kurang, semakin kuat kecenderungan untuk mencari-cari kekurangan orang lain lalu melengkapinya."
Sebaliknya, pria yang memiliki rasa percaya diri yang positif, lanjut Drajat, umumnya tidak terjebak pada kebiasaan ngegosip begini. Drajat tidak menampik kemungkinan bahwa gosip di antara sesama pria bisa sedemikian hidup bila topiknya mengenai wanita atau hal-hal serupa. Berbagai situasi sosial yang semakin menekan, banyaknya kompetisi, bertumpuknya kegagalan demi kegagalan, membuat pria semakin takut ditolak, hingga semakin membutuhkan pemenuhan untuk melengkap-lengkapi kekurangan orang lain.
"Ngerumpi ternyata juga dijadikan sarana mencari perhatian agar diterima oleh kelompok. Semakin seseorang butuh perasaan diterima kelompoknya, semakin dia berusaha menunjukkan kebolehannya bergosip ria hingga muncul kesan bahwa dia 'tahu' dan bisa diandalkan sebagai sumber informasi."
* PEMARAH
Tak jauh beda dengan suami dominan. Penyebabnya juga rasa tidak aman akibat sering mengalami frustrasi, menemui kegagalan, merasa kalah dan tersia-sia. "Meski idealnya, orang memang harus bisa menerima kekalahan. Kalau sering menemui kegagalan, sepatutnya mau introspeksi diri.
Nyatanya, tekanan-tekanan hidup jutru terakumulasi dalam sikap agresif." Kalau dimarahi bos di kantor, contohnya, lalu mencari pelampiasan di rumah dengan marah-marah.
Bentuk agresif seperti ini biasanya bersifat sementara. Sementara bila sudah begitu melekat dan membentuk citra tersendiri dalam diri yang bersangkutan, sifat agresif menetap menjadi sikap pemarah. Ada pula sifat agresif yang muncul dari ketidakpercayaan pada dunia, semisal melihat orang tuanya dibunuh.
Yang bersangkutan menangkap kesan bahwa dunia penuh kekerasan, hingga yang terbentuk dalam dirinya adalah "semangat" untuk bertahan. Kalau mau hidup berarti harus menunjukkan kekerasan untuk mengalahkan atau bahkan memusnahkan orang lain.
* PENUH TANGGUNG JAWAB
Asal tahu saja, pria tipe ini sangat sedikit jumlahnya. Mereka adalah suami-suami yang sudah cukup terlatih dan terbiasa menghadapi realitas. Umumnya suami-suami seperti ini semasa kecilnya adalah anak laki-laki yang diberi kepercayaan dan kesempatan orang tuanya untuk mencoba dan berbuat salah. Naik sepeda di jalan raya, contohnya.
Sebagai orang tua Anda pasti khawatir dia akan jatuh. Tanamkan keyakinan dalam dirinya bahwa Anda percaya pada kemampuannya. Kalaupun akhirnya dia terjatuh, Anda pun tidak perlu langsung heboh menunjukkan kepanikan. Berikan kepercayaan bahwa dia bisa mengatasi masalah. "Begitu juga ketika dia berangkat remaja dan mulai bergaul dengan lawan jenis. Kenalkan anak pada bentuk-bentuk tanggung jawab yang harus dipikulnya. Tentu saja agar bisa memberi kepercayaan, kita harus memiliki kepercayaan pada diri sendiri lebih dulu."
* PENASEHAT
Menghadapi tipe suami seperti ini, biasanya Anda justru jengkel dan merasa dianggap sebagai anak kecil yang perlu dicereweti terus-menerus. Suami tipe ini, kata Drajat, superegonya terlalu banyak terisi oleh nilai-nilai idealistik, hingga ia cenderung menasehati semua orang dalam setiap hal.
Ia baru bisa dibilang penasehat sejati kalau pengalaman hidupnya cukup kaya dan petuah-petuahnya pun muncul dari kedalaman rohani. Hingga dengan bekal itu, ia betul-betul mampu memberikan arah dan membantu mencarikan solusi. Tipe ini pun biasanya sebatas memberi nasehat tanpa memaksakan kehendak, tidak menuntut dan tidak pula menghujat orang lain. Melainkan mencermati pengalaman hidup yang diracik dengan nilai-nilai moral untuk menuntun, mengayomi dan melindungi keluarga dan orang lain.
* MUNAFIK
Sebenarnya karakter ini hampir mirip dengan karakter suami penasehat. Hanya saja, kata Drajat, munafik muncul dari pribadi yang tidak hidup di alam nyata atau mendasarkan diri pada pengalaman hidup. Tak mengherankan kalau pesan atau nasehatnya bombastis dan melambung dengan bahasa bagus, namun sama sekali tidak membumi. Dorongan menasehati pun timbul hanya karena merasa dirinya paling hebat. "Jangan merokok" tapi dia sendiri merokok. Menasehati orang lain untuk hidup jujur, namun ia sendiri korupsi, misalnya."
* PENUNTUT
Dalam masyarakat dulu, mungkin suami model begini tidak kelewat menimbulkan masalah. Tapi buat keluarga masa kini yang semua pihak sudah repot dengan urusan masing-masing, suami seperti ini betul-betul bikin jengkel. Bagaimana tidak? Kopi, sarapan dan keperluan mandi sudah harus tersedia saat dia membuka mata.
Makanan pun harus betul-betul istimewa dan disiapkan secara istimewa. Sementara bila istri kerepotan menangani urusan rumah tangga, dia seolah tak peduli. Begitu juga bila si kecil nangis, ia tenang-tenang saja baca koran. Nyebelin, banget, kan?
Menurut Drajat, sikap ini juga merupakan tanda-tanda kejiwaan yang kurang sehat. "Yang bersangkutan merasa khawatir superioritasnya akan ditumbangkan pihak lain. Ia menganggap perlu membentengi diri dengan perlakuan yang eksesif atau berlebih."
Meski awalnya pasti berat, Drajat menyarankan agar istri justru membantu suami menumbuhkan kepercayaan dirinya. Beri dorongan dan upayakan agar suami merasa positif. Jangan malah menggerogoti, "Uh, suami saya memang payah!" Pokoknya, tegas Drajat lebih lanjut, jangan menunjukkan sikap frontal atau konfrontatif.
Tumbuhkan kepercayaan pada suami bahwa dia bukan kerbau dungu. Dia pasti punya rasa cinta pada keluarga, kok, meski kelihatannya egois. Karena jauh di lubuk hatinya ia justru ingin berteriak memekikkan rasa sakit yang dideritanya. Sementara ada budaya mengajarkan laki-laki pantang mengeluh dan menangis.
* KEIBUAN
Biasanya ia mau, lo, menyelesaikan segala tetek bengek urusan rumah tangga, sampai-sampai si istri merasa tidak berperan dalam keluarga. Menurut Drajat, karakter ini lebih dibentuk minat pribadi, bukan karena pembagian peran yang tidak jelas saat kecil. Pria model ini biasanya sudah terbiasa dan dilatih atau dilibatkan ibunya sejak kecil untuk selalu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, seperti membersihkan tempat tidur, menyapu lantai atau ke pasar. "Kalau kebiasaan tersebut sudah mendarah daging, tak perlu dilarang," saran Drajat.
Toh, hal tersebut sama sekali tidak mengurangi harga dirinya sebagai lelaki sejati. Kalau saat ini Anda pun sudah terbiasa melibatkan semua anak dalam pekerjaan rumah tangga tanpa membedakan gender, tak perlu terlalu khawatir anak laki-laki Anda tak akan tumbuh jadi pria kewanita-wanitaan, kok.
* CUEK
Suami tipe ini sebetulnya minta diladeni dan diperhatikan, meski kelihatannya tidak membutuhkan orang lain. Sikap ini bisa muncul karena ia terlalu diperhatikan, hingga perhatian Anda dirasa tidak istimewa. Atau sebaliknya sama sekali jarang mendapat perhatian, namun gengsi mengakuinya. Rasa sebal Anda pada sikapnya sebetulnya sia-sia karena ia memang terbiasa untuk tidak menaruh peduli pada orang lain.
suami yang tipe apa yah????
biar lebih adil sekarang aku mo browing tentang tipe istri ...
akhirnya dapat juga nih
Mengenali Karakter Istri
Jumat, 10 Oktober 2008 | 13:58 WIB
JIKA kita kenal karakter pasangan, dijamin konflik dapat diminimalisasi. Bukankah dengan kenal kita bisa memahaminya hingga solusi pun bisa ditemukan? Nah, seperti apa karakter istri Anda, silakan simak di bawah ini.
1. BOROS Coba lihat bagaimana karakter orangtuanya. Soalnya, kata psikolog Raymond AI Tambunan dari Fakultas Psikologi Unika Atma Jaya, Jakarta, mereka yang boros biasanya dibesarkan dari orangtua yang boros pula. "Jadi, sejak kecil memang sudah terbiasa dengan pola hidup boros." Umumnya lebih impulsif, yakni tak bisa menunda keinginan. Bila menginginkan sesuatu, ia pasti langsung membelinya.
Kendati demikian, pola asuh bukan satu-satunya yang membentuk seseorang berkembang jadi boros. Ada juga kok yang dulunya hidup miskin, tapi setelah dewasa jadi boros. "Kalau sekarang ia hidup bergelimang harta karena berhasil mencapai pendidikan tinggi hingga punya karier dan penghasilan bagus, tentunya apa pun yang ia inginkan bisa dibeli dengan mudah hingga membentuknya jadi pribadi yang boros." Jadi, sikap borosnya lebih merupakan kompensasi masa kecil yang serba susah.
2. PELIT
Sepertinya karakter ini sudah menjadi semacam trade mark kaum ibu. Bukankah para ibu lebih suka berkeliling pasar menawar ke sana ke mari demi mendapatkan harga termurah? Orang luar boleh saja berkomentar, "Kok mau beli itu saja mesti dihitung-hitung banget? Berapa sih selisih harganya? Apa enggak capek buang-buang energi?" Padahal, ibu-ibu model ini belum tentu pelit lho. Siapa tahu ia cuma bermaksud hemat. Apalagi secara sosiologis, terang Raymond, ibu-ibu di negeri kita umumnya bertanggung jawab memegang keuangan keluarga, sementara suami bertugas mencari nafkah.
"Nah, sebagai manejer keuangan keluarga, tentu ia harus pandai-pandai mengatur keuangan keluarganya, bukan? Itu sebab perbedaan-perbedaan harga yang oleh orang luar dinilai sepele, bagi si ibu sangat berarti." Sebaliknya, si pelit dalam arti tak mau berbagi biasanya diwarnai posesivitas, yaitu keinginan untuk memiliki yang begitu kuat. Karakter ini sebenarnya dibawa dari masa 5 tahun pertama. "Bila pada tahap usia ini anak kelewat diatur-atur hingga terbiasa menahan segala keinginannya karena tak boleh ini maupun itu, ia berkembang jadi pribadi yang tak mau berbagi."
3. TAK BETAH DI RUMAH
Yang model begini suka sekali menghabiskan waktu dengan jalan-jalan ke mal dan menghamburkan uang. Padahal, jika memang tujuannya mengisi waktu kan masih banyak kegiatan bermanfaat. Sementara di rumah pun rasanya mustahil bila tak ada pekerjaan dijadikan alasan keluyuran. Bukankah mendampingi anak belajar atau memanfaatkan waktu bersama anak merupakan aktivitas yang sangat bermanfaat ketimbang mereka seharian bersama pembantu?
Namun, ada pula yang tak betah di rumah lantaran merasa belum cukup dengan apa yang sudah dilakukannya di rumah. Apalagi bila ia merasa kompeten dan berpeluang membina karier di luar karena punya keterampilan tertentu. Ada juga istri yang tak betah di rumah lantaran kesepian hingga ia mencari hiburan dengan keluyuran tak tentu arah. Nah, yang harus dicari adalah alasan ia tak betah di rumah. Bisa jadi pula karena hubungannya dengan suami kurang memuaskan. Atau, karena ingin menghindari keruwetan rumah tangga lantaran tak diajarkan/dibiasakan terampil memecahkan masalah, hingga yang ada hanya sekadar pelarian.
4. TUKANG NGOMEL Sedikit saja ada yang tak berkenan di hati, ia langsung ngomel. Apalagi kalau ada yang bikin salah, omelannya bisa memekakkan telinga. Menurut Raymond, karakter ini muncul bukan lantaran perempuan pada dasarnya cerewet. "Karakter ini lebih merupakan mekanisme pertahanan untuk menunjukkan dirinya agar dihargai." Pasalnya, secara fisik yang bersangkutan tak mampu menyelesaikan masalahnya, hingga ditempuhlah cara dalam bentuk agresivitas yang dianggapnya paling aman dan terhormat ketimbang main lempar banting piring.
Raymond melihat, mengomel merupakan bentuk agresivitas yang paling sering muncul lantaran orang merasa frustrasi. Pemicunya berupa situasi yang serba "mengurung" hingga ia merasa tak berdaya. "Kalau ada masalah tapi enggak diselesaikan, pastinya kan bertumpuk. Nah, kalau ini selalu berulang, tentu sangat menjengkelkan dan terakumulasi. Apalagi jika sudah dikasih tahu baik-baik tapi tetap tak ada perubahan, ya, akan memunculkan agresi."
5. PENCEMBURU
Istri model ini amat posesif karena ia merasa tak aman. Coba telusuri lebih jauh penyebabnya sampai ke masa kecilnya, adakah ia punya pengalaman buruk. Soalnya, terang Raymond, "Mereka yang punya pengalaman tak enak berpotensi besar jadi cemburuan." Misal, apa yang ia miliki mudah hilang atau barang-barangnya yang dipinjam tak pernah kembali.
Kondisi kehidupan atau tuntutan tugas yang "memaksa"nya sering berpindah tempat juga bisa menjadi salah satu sebab munculnya karakter ini. Bukankah ia harus tercabut dari lingkungan lama yang sudah akrab dan selalu harus memulai dari awal lagi? "Nah, ini membuatnya merasa tak aman dan nyaman. Ia merasa segala yang telah dibina selalu sia-sia hingga timbullah posesivitas dan keresahan tingkat tinggi." Akibatnya, terhadap suami pun ia demikian; ia takut kehilangan orang yang dicintainya hingga punya kecemasan berlebihan kalau-kalau suaminya akan lepas juga darinya. Buntutnya, muncullah cemburu buta.
6. SLORDIG
Buat mereka, keteraturan tak terlalu penting. Itu sebabnya mereka tak terusik sedikit pun kala melihat si kecil belum juga mandi padahal hari hampir magrib atau mendapat tas kerja suami ada di tempat tidur, dan sebagainya. Bahkan, si kecil belum makan pun tak jadi soal buatnya. "Toh, kalau lapar nanti juga minta makan," begitu pikirnya. Rumah berantakan juga ia tenang-tenang saja.
Jika pasangannya juga seirama, mungkin tak jadi masalah. Namun, bila suaminya sangat teratur, bisa-bisa setiap hari ada "bom" meletus di rumah. Apalagi, sislordig ini tipe orang yang cenderung menunda-nunda pekerjaan dan menggampangkan masalah. Baginya, hidup ini seperti air mengalir, tak ada yang harus dikejar. Menurut Raymond, ketiadaan ambisi dan aspirasi ini lebih disebabkan pandangan yang salah kaprah tentang peran perempuan. "Di sini masih banyak yang mengganggap wanita egois kalau ingin bersekolah lagi atau bekerja. Dianggapnya tak perhatian pada anak, lebih mementingkan diri sendiri, dan sebagainya."
7. GILA KERJA Ini sudah lampu kuning. Soalnya, bisa jadi ada something wrong dengan kehidupan rumah tangga Anda berdua hingga ia merasa tak nyaman, lalu mencari kompensasi dengan bekerja dan mengejar prestasi di bidang lain. Meski tak tertutup kemungkinan kegilaannya berhubungan dengan achievement atau ambisi mencapai sesuatu yang lebih. Akibatnya, ia merasa lebih betah di kantor ketimbang rumah, terlebih jika kondisi rumah juga mendukungnya untuk "lari" ke kantor. Ia merasa dihargai, mendapat kepercayaan dan kesempatan, jenjang kariernya jelas, dan situasi kerjanya pun menyenangkan.
Di samping itu, gila kerja juga didorong oleh kecenderungan untuk memiliki uang pribadi agar tak ada ketergantungan ekonomis pada suami. Sayang, reaksi orang-orang rumah, terutama suami, sering tak tepat semisal marah, menuduh, atau melecehkan, hingga yang kemudian muncul justru keinginan lebih untuk bekerja dan terus bekerja. Menurut Raymond, secara kasatmata biasanya sulit dibedakan antara yang gila kerja lantaran memang betul-betul menikmati ataukah hanya sekadar pelarian.
8. "PELAYAN SEJATI"
Masih banyak lho istri model ini. Penyebabnya adalah faktor budaya. Bukankah budaya kita, terlebih zaman dulu, mendudukkan perempuan lebih rendah dari pria? Jadi, sedari kecil perempuan sudah terbiasa kalah dan mengalah; dididik untuk selalu melayani, bukan dilayani. Selain itu, perempuan memang punya naluri untuk merawat hingga ada kecenderungan lebih mengutamakan suami dan anak.
Jika suami tergolong tipe yang senang dilayani, kloplah. Namun, buat suami yang lebih mementingkan diskusi antaranggota keluarga dan keterlibatan istri dalam pengambilan keputusan, tentulah sangat tak nyaman beristrikan model ini. Ia butuh istri yang bisa diajak ngobrol, bisa dimintai pendapat dan ide, bahkan bisa memutuskan apa yang terbaik buat suami kala menghadapi masalah. Dalam bahasa lain, ia butuh pasangan yang setara. Nah, jika kebutuhan ini tak diperoleh dari istrinya, bisa jadi ia akan mencarinya dari orang lain.
9. "TERSERAH MAS AJA DEH." Kalau yang ini lebih karena sedari kecil tak dibiasakan memilih dan mengambil keputusan. Namun, bisa juga lantaran suami kelewat dominan atau boleh jadi ia punya pengalaman pahit/menyakitkan kala ikut menentukan pilihan. Misalnya, komentar suami yang melecehkan pendapat atau pilihannya. Istri sebaik dan sesabar apa pun pasti akan terluka hatinya. Akhirnya, ia lebih memilih diam daripada harus sakit hati. Namun buntutnya, bisa jadi ia ngomel di belakang menunjukkan kekecewaan.
Aku termasuk yang mana Yah??? (suami deh yg bisa jawab)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar